Silent Hero(es), my first cinema-film project

Main casts dari film Silent Hero(es) di Epicentrum, Jakarta.

So, this is the point where everything in the past was prepared to start a new journey in my film making career.

INDEED Film Poster

Dream Big, Start Small, Act Now.

Sebetulnya, perjalanan film gw yang tercatat itu dimulai dari menangnya film pendek gw berjudul INDEED di tahun 2012 dlm ajang LA Lights Indiemovie sebagai The Best Film.

Film yang dibuat dengan sangat sederhana dengan sebuah pemikiran untuk menguji apakah segala skill dan pengetahuan yang gw pelajari secara otodidak, memang bisa diukur secara memadai dlm sebuah ajang kompetisi.

Perasaan yg campur aduk ketika hadir di awarding nightnya di Yogyakarta waktu itu, memang adalah pengalaman yg nggk mungkin gw lupain karena ketika 4 film dari 10 nominasi sudah dapetin penghargaannya masing-masing, gw merasa nggk ada lagi hal apapun yg bisa gw harapkan dari ajang tersebut. Kamera yg gw bawa untuk dokumentasi pun sudah gw sarungin dan bersiap-siap pulang ke hotel krn waktu itu gw berangkat bareng istri dan anak gw. Satu-satunya reason yg bikin gw stay, cuma rasa penasaran aja siapa yg jadi pemenang kategori The Best Film nya.

Selanjutnya tentu uda bisa diduga sendiri. Semangat ketika menerima jabatan tangan dari om Garin Nugroho yang bilang “film kamu bagus” selalu menjadi api yang nyala terus hingga hari ini ketika berkarya.

Habis dari situ, di tahun 2013 gw ikut lagi kompetisi2 film pendek yang membawa gw berprestasi di AXA Short Film Festival dan HelloFest. Sungguh saat itu adalah saat2 dimana yang namanya bikin film nggk pernah menjadi hal yang sulit untuk dikerjakan.

From Buying to Invest.

Singkat cerita, dimulai dari pekerjaan2 rutin mengerjakan liputan untuk event, company profile untuk korporasi dan dokumenter2 ringan, akhirnya pada tahun 2014, gw dipertemukan dengan seorang klien yang kemudian menjadi investor dan partner gw dalam mendirikan sebuah production house dengan nama PT. Duckochan Bravo Imaji yang tampil dengan nama panggung “Duckochan Films”.

Gegara PT tersebut adalah perusahaan baru yang praktis nggk dikenal oleh siapapun, gw mengajukan sebuah skema publisitas kepada sang investor, untuk memproduksi sebuah film layar lebar yang bakalan diajukan ke Festival Film Indonesia, selain dengan tujuan supaya nama Duckochan Films bisa muncul ke permukaan.

Sang investor ternyata cukup gila untuk bersedia mewujudkan ide tersebut sehingga lahirlah film berbahasa Mandarin pertama di Indonesia dgn judul Silent Hero(es) atau 沉默英雄, yang dibintangi oleh Nirina Zubir, Alena Wu, Ivanaldy Kabul dan Fina Phillipe.

Lagi2 kejutan datang mendadak, ketika gw lagi di Alfamart tengah malam dan ditelpon oleh Nirina yang mendapat kabar luar biasa cepat mengenai masuknya Silent Hero(es) dalam kategori nominasi The Best Supporting Actress untuk Nirina. Waktu itu, kabar bisa cepat diperoleh oleh sebagian orang yg ngikutin pengumumannya di Gedung Sapta Pesona Jakarta sebelum keesokan harinya resmi dipublikasiin di berbagai media.

Sejujurnya, waktu pengumuman tahap 1 diperlihatkan kepada para pendaftar FFI dimana gw bisa melihat ada ratusan film dari berbagai PH besar yang masuk, disitu gw sempat berpikir bahwa apalah artinya Silent Hero(es) ini dibanding dgn film2 lain berbudget besar dan bertaburan bintang.

Tapi ternyata perasaan yang sama ketika menghadapi LA Lights Indie Movie Award lagi2 keliru ketika fakta memang memberikan kesempatan kepada kita untuk selalu berpikir positif dan tetap semangat sampai titik terakhir.

Hadiah Natal Terbaik.

Ternyata memang apa yg gw rencanakan, waktu itu bisa dikatakan cukup lancar sejalan dengan tampilnya DuckoChan Films sebagai PH berstandar sinema yang kemudian mulai bisa mengerjakan pekerjaan2 dari klien2 berskala sedang dan besar, yang sekaligus membuat PH bertumbuh sedikit demi sedikit secara portfolio.

Hal yang tidak terduga, justru datang pada tgl 24 Desember 2016 ketika pihak Blackmagic Design (produsen kamera Pocket Cinema yang gw pakai untuk produksi Silent Heroes) secara resmi memberikan dukungan alat kepada gw berupa 1 (satu) unit Ursa Mini 4.6K sebagai Beta User yang kemudian diijinkan untuk digunakan di semua produksi2 gw dalam skala apapun.

Sejak saat itu hingga hari ini, standar kamera yang gw gunakan selalu berstandar sinema dan nggk pernah gw turunkan kualitasnya walaupun mungkin anggaran produksi yang diterima sangat fluktuatif.

Blackmagic Design Ursa Mini 4.6K

Working My Hobby.

Gw sangat bersyukur, bahwa ketika gw menjalankan bisnis PH yg sekarang, itu praktis gw menjalankan hobby gw sendiri ketika gw dulu menghidupi hidup gw mulai dari seorang freelance graphic designer / web designer, ketika foto2 masih menjadi hobi sendiri untuk menciptakan gambar2 yang gw suka.

Hari ini, DuckoChan Films udah transformasi lagi menjadi DBI Media Indonesia yang berada di bawah naungan formal PT. Langgeng Berkat Karyatama, dan menjalankan berbagai aktivitas tambahan yaitu DBI Academy untuk training hal2 yang bertema film dan editing, DBI Festivo untuk pelaksanaan event dan DBI Store sebagai reseller produk Blackmagic Design dan monitor dari LG Electronics.

Walaupun masih tersimpan dalam hati, gw sedang berusaha mewujudkan film2 gw berikutnya supaya ada karya yang bisa dibagikan buat banyak orang sebagai sebuah penyemangat dan hiburan semata.

Carpe Diem, Carpe Noctem, Carpe Omnia!