I Can Show You The World

Unofficial Film Poster

Yes. Aladdin!

Walopun memang sangat terlambat nonton film ini gegara jadwal syuting yg lagi padet teu kacida, tapi nulis komentar ttg film ini tetap gw lakuin, karena pada dasarnya film ini mmg pantas dikomentarin. Hahay. 

Sejujurnya, karena gw masuk bioskop dengan pemikiran film Aladdin jadul yang memang sudah pernah ada, nggk ada perasaan spesial apapun ketika gw nonton film ini. Artinya, jalan ceritanya semuanya memang nggk ada yang aneh2.

Tapi, yg membuat gw super kagum, adalah kehebatan pembuat film membangun set yang imajinatif dengan kombinasi green screen yang uda terlalu gila dan realistik. Disinilah gw sadar, bahwa memang Hollywood itu bener2 bisa wujutin apapun imajinasi dari pembuat film.

Nah, selain faktor filmnya sendiri, faktor lain yang membuat gw pingin nonton film ini adalah directornya Guy Ritchie dan pemainnya Will Smith. Di benak gw, dua nama besar ini uda bener2 strong banget dah sebagai alasan gw melangkahkan kaki ke bioskop.

Setelah nonton, kesimpulan gw adalah: Will Smith bisa aja dipilih karena konsep Genie yang memang jadi hiphop banget karena doi memang terkenal banget kan bisa rap dan bergaya hip hop yg nggk malu2in. Daripada manggil pemain lain yang nggk jelas juntrungannya dan perlu waktu utk ngelatih ini itunya, better langsung taro Will Smith di film ini, semua beres.

Sedangkan dari sisi directing, sebetulnya gw merasa bahwa nggk perlu seorang Guy Ritchie untuk men-direct film ini. Karena, gw merasa ciri2 khas dan style Guy Ritchie di film2 sebelumnya kayak “The Man from U.N.C.L.E”, “Sherlock Holmes”, atau “King Arthur”, itu nggk bener2 berasa di film ini. Memang ada bbrp adegan ciri khasnya yg pakai slow motion, tapi itu bener2 minim banget. Dibilang kecewa sih nggk juga, simply put, mgkn karena konsep musikalnya yg memang lumayan menantang buat Guy Ritchie, sehingga beliau melihat ini kesempatan dia untuk menelurkan karya yg berbeda di dalam sebuah project yg cukup fun, ringan dan menghibur.

Dari sisi pemeran. Ternyata, banyak yang mencerca karakter Jasmine di film ini yang diperanin oleh Naomi Scott. Alasannya beragam. Bagi gw, sebetulnya nggk fair kalau netizen atau siapapun berpendapat atau bahkan berkomentar negatif yang ditujukan kepada Naomi Scott, karena sebagai pembuat film, gw tau betul yg namanya casting, itu memang ditentukan oleh para petinggi bahkan juga directornya. Atau dengan kata lain, bukan Naomi Scott semata yang kegilaan pingin memerankan Jasmine, tapi ada 1 layer yg namanya Casting Manager atau bahkan Producer/Director yg memutuskan bahwa Naomi Scott pantas menjadi Jasmine. Dan, faktanya juga demikian kok. Terlepas dari penampilannya yang “nggk terlalu Arab”, tapi kepiawaian Naomi Scott dalam bernyanyi jusru adalah satu2nya alasan gw merinding ketika dia melantunkan “Speechless”.

Kemudian, pemeran Aladdin yaitu Mena Massoud, yg berasal dari Cairo dan berkarir di Toronto. Beberapa orang juga komentar, bahwa penampilan Massoud sedikit kurang untuk peran Aladdin. Bagi gw pribadi, penampilannya yg kelihatan lincah dan pecicilan, ditambah raut muka dan senyumnya yang nakal, justru membuat karakter Aladdin menjadi dinamis. Apalagi, Massoud mendapatkan peran ini dengan mengalahkan lebih dari 2.000 kontestan audisi yang diselenggarakan Disney secara worldwide. Banyak informasi yang bisa digali, bagaimana Massoud pun sudah sempat merasa pesimis dikarenakan berita konfirmasi tentang dirinya baru disampaikan berbulan-bulan setelah casting dilakukan.

Walaupun, perasaan gw tadi biasa2 aja setelah nonton film ini, tapi memang selain set yg super dahsyat, juga adegan epic ketika Jasmine diajak Aladdin naik flying carpet, tetap adalah adegan yang bener2 menghibur (kalau bahasa kerannya: it took my breath away).

Musti diakuin, bahwa Disney pun memutuskan secara berani untuk membuat versi live-action dari Aladdin 1992 dikarenakan teknologi audio visual yang memang sudah sangat mumpuni sekarang ini. Semua tertata rapi dan dijahit dengan sangat detail, sehingga penonton memang bisa aja nganggap semua itu real.

Buat gw pribadi, pesan moral di film ini, adalah bahwa memang seorang pribadi itu akan menjadi ‘mahal’, karena ada kebaikan yang tulus bahkan dari seorang pencuri sekalipun. Kemudian, ketidakegoisan diri dan rela memberikan hal yang paling berharga kepada orang lain pun juga adalah harta tak ternilai yang seringkali membawa kita meraih impian kita sebagai balasan dari alam (karma) akan ketulusan kita.

Alhasil, ketika gw menempatkan diri untuk menonton film ini sebagai generasi millenial yang benar2 nggk ‘kenal’ dengan Aladdin versi 1992, gw melihat semua yg disajikan di film ini memang epic secara visual.

Dari total skor 10, gw tentu memberi nilai 7 untuk film ini, alias sangat recommended!

Salam Action!