Ms and Mrs. Cop

the official film poster in Korea

Owkai. So, ini adalah postingan pertama gw utk komentarin film yg gw tonton, baik yg bener2 baru, atau yg pernah/uda lewat. Prinsipnya, gw hanya akan komentarin film ini dari sisi yg santai aja dlm hal sinematografi, jalan cerita dan hal2 lain yg gw anggap cukup unik/menarik.

Kalo mau cari detail2 nama pemeran/pemain dan kru terlibat, langsung aja cek IMDB karena pasti bakalan lebih detail dan lengkap.

So, here we go.

Secara overall, film ini bercerita tentang bagaimana dua orang Polwan yang diremehkan dalam unit kepolisian berupaya membongkar sebuah kasus yang juga diremehkan oleh unit polisi secara umum, yaitu pelecehan seksual kepada perempuan yang saat itu dianggap tidak terlalu ‘seru’ sebagai cara untuk meningkatkan karir dalam jenjang kepolisian.

Kalo lihat trailer berikut ini, sebetulnya terlalu mudah bagi kita untuk menebak ke arah mana jalan ceritanya dan bagaimana ending film ini. Tapi, karena banyak banget film maker sekarang sering bikin film dgn konsep twist ending, elu nggk akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi sampai elu memang harus datang ke bioskop untuk tonton sendiri.

Jujur aja, gw ini sangat susah sekali menghafal nama2 Korea dan mengkaitkannya dengan individu yg bersangkutan, baik dalam konteks film maupun real. Tapi, demi tulisan ini akhirnya gw baca2 info dulu, dimana kedua peran utama dlm film bernama Mi Young (polisi yang lebih tua) dan Ji Hye (polisi yang muda).

Film memang dibuka dengan dengan adegan yang seru sekaligus lucu ketika Mi Young secara gesit, taktis dan cekatan (otot kuat, beladiri jago) menyelesaikan tugasnya membekuk penjahat2 yang diperlihatkan lelaki semuanya, sampai kemudian menarik perhatian seorang lelaki yang mengaku jatuh cinta padanya dan kemudian menjadi suaminya.

Tutur cerita sempat berjalan cukup statis dan sedikit membosankan ketika penonton diperkenalkan kepada fakta-fakta tentang Mi Young dan Ji Hye sehingga penonton akhirnya mengerti mengapa mereka diremehkan oleh unit kepolisian saat itu. Untungnya, beberapa selipan adegan dan dialog yang lucu, membuat fakta-fakta tersebut masih bisa diikutin bahwa terkadang menghadiahkan kita gelak tawa yang lumayan lebar. Disinilah gw harus ngakuin ‘kecanggihan’ tutur cerita Korea yang bisa membuat penonton masih tetap duduk dan menunggu momentum pentingnya.

Cerita kemudian menjadi semakin seru ketika para pemeran utama memutuskan untuk menangani sebuah kasus pelecehan seksual, namun kondisi Mi Young dan Ji Hye dalam kondisi tidak siap karena mereka tidak ditempatkan di departemen yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Selanjutnya tentu bisa diduga, bahwa minimalnya dukungan unit polisi, keterbatasan fasilitas dsbnya menjadikan perjalanan mereka sangat unik dan cenderung konyol ketika menghadapi situasi-situasi genting. Untung aja ada karakter Jang Mi yang sangat menarik perhatian gw, karena penggambaran keahliannya yang terlalu ekstrem dan lebay, tapi jelas2 itulah cara pembuat film membuat penonton selalu disajikan gelak tawa di sela-sela situasi ketegangan filmnya sendiri.

Sebetulnya, nggk ada yg betul2 spesial dari film ini, dimana gw sering melihat dari sisi probabilitas sebuah film diproduksi di Indonesia dalam pendekatan teknis. Tapi, lagi2 hal yang membuat gw ragu bahwa dampakanya bisa sama adalah cara dan teknik bertutur ceritanya.

Bagi gw secara personal, film ini lagi2 sebuah contoh, yang selama ini gw amatin, bahwa film2 import (Korea, HongKong, China, Taiwan, Hollywood, bahkan Bollywood) nggk alergi dengan karakter utama yang sudah separuh baya, bahkan mengangkatnya menjadi sebuah semangat dan inspirasi bagi generasi muda. Kita sering melihat bahwa di Indonesia, karakter2 paruh baya tidak pernah mendapat tempat seperti ini semata karena pertimbangan komersil, selain budaya dan pola pikir bahwa orang tua sudah waktunya masuk ke masa-masa pensiun dan ‘tidak berguna’.

Dari total skor 10, gw kasih nilai 7 untuk film ini. Yang artinya recommended untuk ditonton sebagai hiburan ringan penuh penyemangat lahir batin. Hahay.

Salam Action!