Dark Phoenix: Too Dark to be True

Walopun uda rilis bbrp lama di bioskop, tapi sampai kemarin malam gw nonton film ini di TSM Bandung, ternyata masih penuh aja sampai jajaran depan. Dan, walopun juga review film ini dimana-mana kayaknya nggk terlalu bagus, tapi dgn IMDB 6,1 rasanya masih aja banyak yg penasaran dgn film ini.

Waktu habis nonton film ini, gw mmg agak heran kenapa karakter2 yg ada di film ini, apalagi Xavier, ditaruh dlm kondisi yg ‘tidak enak’ karena praktis hal2 mengerikan terjadi karena kesalahannya. Tapi, begitu gw lihat poster dibawah ini, gw langsung mengerti reason kenapa film ini bertutur dgn cara seperti ini.

Tertulis “Every Hero Has a Dark Side”. Jadi, dengan mudah gw simpulkan bahwa memang message dari pembuat cerita dan pembuat film, bahwa memang ada kemungkinan, seorang Hero bisa mengambil keputusan yg salah sehingga mengakibatkan suatu dampak yg fatal di masa depan.

Uniknya lagi, sosok yg pernah dikonsepkan antagonis, jusru menjadi karakter hero yang menurut gw lebih wise dan konsisten dalam konteks melindungi kamu mutant. Di awal film, gw dengan mudah bisa mengambil kesimpulan ‘kasar’, bahwa Xavier memang agak egois dgn pikirannya sendiri yg menaruh kaum manusia diatas kaum mutant, dgn berlindung pada alasan bahwa dia telah berhasil meyakinkan presiden USA betapa mutant bisa hidup secara tenang dan normal berdampingan dengan manusia.

Apapun itu, bagi gw film Dark Phoenix ini memang agak ‘beda’ dgn film2 lainnya besutan sutradara Simon Kinberg. Doi yg pernah buatin film The Martian, Logan dan Fantastic Four, biasanya menyampaikan cerita dgn pace yg lumayan cepat dan ringkas. Gw pikir, mgkn karena kali ini unsur emotional dari film lebih pingin ditonjolkan, berasa sekali bahwa memang para super hero ini ditempatkan dlm situasi gelora emosi yang sangat dominan.

Secara overall, gw pribadi kasih poin 7 dari 10, karena selain memang masih oke utk dinikmatin sebagai tontonan, juga karena (seperti biasa), visual fx nya masih sangat ciamik.