Gisaengchung 기생충

Yep! Artinya sesuai judulnya dlm bhs Inggris: “PARASITE”. Film yg lagi heboh ini, buatan sutradara bernama Bong Joon Ho, yg memenangkan penghargaan tertinggi di Cannes Film Festival 2019 yaitu Palme d’Or yg juga sekaligus menandakannya sebagai film Korea pertama yang mendapatkan penghargaan ini.

Film yang berdurasi lebih dari 2 jam ini selalu mengajak penonton untuk terus penasaran ngikutin setiap scene yg disajikan. Praktis dlm perjalanan filmnya sejak awal, penonton sudah dibawa dlm suatu situasi yg tidak terduga karena tutur cerita yang cukup cepat namun terselip humor di dalam setiap dialog maupun penggambaran visualnya.

Bicara soal visual, banyak banget artistic static shot yg gw suka banget untuk menjelaskan film ini secara visual untuk melengkapi jalan ceritanya itu sendiri. Metode ini memang sangat brilian dibandingkan penuturan yang terlalu mudah disampaikan secara verbal.

Film yang disebut dgn genre “Tragicomedy” ini memang membawa penonton utk masuk dlm skema kehidupan dua keluarga (bahkan tiga) yang sangat kontradiktif secara keuangan dan status. Ketika sebuah benang merah yang simpel mengenai adanya kebutuhan mutualisma antara kedua keluarga tersebut, pembuat film melanjutkan kesimpulan tersebut dengan sebuah situasi yang intensed dan penuh ketegangan dengan tidak terduga.

Dimulai dari hanya sebuah ‘motivasi’ untuk mendapatkan pekerjaan dan menyambung hidup, penonton disiapkan kepada berbagai kejutan di tengah dan akhir film secara tidak sadar.

Secara teori penulisan bahwa “coincident creates problems”, itu benar-benar sangat terasa di film ini sehingga apapun yg terjadi memang berasa sangat natural dan organik.

Disisi lain, juga bisa dilihat bagaimana sebuah rencana ‘kejahatan’, pada akhirnya akan dibalas dengan ketidakbaikan juga (walaupun dlm konteks film ini digambarkan dengan sangat ekstrem), walaupun dalam prosesnya, para pelaku yang merencanakannya masih diselipkan niatan baik untuk memperbaiki keadaan. Bahasa ringkasnya “it’s too late”.

Hal lain yang kentara banget di film ini adalah sebuah gestur yang mungkin dianggap normal atau bahkan biasa saja tanpa niatan jahat, itu bisa berdampak pada penumpukan rasa dendam kepada orang lain yang menjadi objek pembicaraan. Walaupun lagi-lagi, luapan emosi dan kemarahan dari si objek dibuat agak berlebihan.

Ketika pertama kali kali istri gw memperkenalkan film ini ke gw dengan tambahan informasi award winning film, sempat muncul perasaan yang campur aduk karena benak gw masih mengkaitkan pandangan gw terhadap umumnya film2 festival yang serba berat, lambat dan sulit dimengerti. Tapi ketika gw akhirnya menikmati kelengkapan filmnya dari awal sampai akhir, lagi-lagi gw cuma bisa kagum bagaimana sebuah film festival yg award winning dikemas dgn tutur cerita yang ‘normal’ dan bisa dipahami dengan baik.

Film yang selesai diproduksi selama 77 hari ini, dikerjakan sangat teliti oleh sang pembuat film, sekaligus menjaga komitmennya dalam memenuhi standar waktu kerja industri yaitu 52 jam seminggu. Sehingga, dengan ketelitian seperti itu, setiap scene di film ini selalu berarti dan tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Selamat Menonton!